Malem Senin kemarin aku ikut papi pergi ke mesjid untuk sholat tarawih. Aku sih seneng ajah pas diajak papi pergi ke mesjid. Aku khan belum tau mesjid itu apa.
Sayup-sayup aku mulai mendengar suara gaduh diselingi orang yang bicara. Papi bilang itu suara ustad yang lagi ceramah dimesijd. Dan suara gaduh itu suara orang-orang yang datang ke mesjid untuk tarawih bersama. Jadi mereka datang ke mesjid itu untuk melaksanakan sholat isya bersama, terus dengerin ceramah, kemudian melaksanakan sholat tarawih bersama. Semua yang dibicarakan papi aku belum ngerti. Yang aku tahu aku digendong papi terus jalan di dijalanan yang gelap, kemudian terdengar suara gaduh diselingi orang bicara, makin lama makin jelas kedengaranya.
Dari kejauhan aku mulai melihat ada bangunan besar yang terang benderang, dan banyak sekali orang disekitarnya. Kata papih itulah mesjid tempat orang-orang berkumpul dan melakukan sholat bersama. Mereka semuanya pake baju warna putih dari atas ke bawah. Ternyata orang yang pake baju warna putih itu perempuan. Ada yang sebaya mamih, kakak, nanek, dan ada pula yang sebaya aku. Laki-lakinya memakai pakaian seperti papi. kebawahnya pake kain sarung. Wah seru nih. Banyak orang. Aku mulai senang. hatiku mulai melonjak-lonjak.
Tiba di mesjid aku memaksa turun dari gendongan papi. Aku diturunkan papi dekat pancuran. Kemudian papi cuci tangan dan cuci muka. Aku ikut main air. Papi bilang papi lagi wadhu. Wadlu itu itu wajib dilakukan sebelum orang melakukan sholat. Aku tidak ngerti.Aku tetap menyorongkan tanganku ke air yang mengucur dari pancuran. Akhirnya lengan bajuku basah. Selesai wudlu papi menggendongku kembali, dan pergi dari pancuran menuju ke pelataran di luar bangunan mesjid yang masih lowong. Aku melihat didalam mesjib banyak sekali orang yang duduk berjejer membentuk barisan ke pinggir yang lurus. Mereka semua diam sambil menundukan kepala. Aku heran kenapa orang itu diam seperti itu. Kenapa tidak lari-lari dan saling berkejaran. Pasti seru.
Papi menurunkan aku dan menggelar sajadah yang kami bawa dari rumah ditempat yang kosong dipinggir lantai yang tinggi. Aku tahu papi pasti akan melakukan sholat. Karena aku sering mengikutinya dirumah. Aku selalu duduk di sajadah itu di depan papi sambil ikut bungkuk bungkuk. Tapi sekarang perhatianku lebih tertuju pada orang-orang yang sabaya kakakku yang sedang hilir mudik. Aku mulai tertarik untuk berjalan mendekatinya. Aku ingin ikut main dengan mereka. Papi sedang melakukan sholat. Kemudian aku jalan mendekati orang-orang itu. Tapi aku tidak tahu bahwa ada tangga satu step antara tempatku dan temapt mereka hilir mudik itu. Aku jatuh berguling-guling dilantai. Pusing kepalaku. sejenak aku diam saja. Kemudian aku disambar oleh seseorang. Dan ternyata papi. Aku dipeluknya. Aku mulai menangis karena kaget dan sakit. Akhirnya papi tidak jadi sholatnya, kemudian kami pulang.
Tiba di rumah mami kaget karena kami pulang cepat. Papi menceritakan kejadiannya kepada mami. Kemudian papi melanjutkan sholatnya di rumah.
Yang paling muda diantara mereka adalah Zesar. Bisa dianggap sebaya dengan aku. Umurnya beda 1,5 tahun. Zesar itu adiknya Hafid dan Adre. Zesar yang paling kecil diantara tiga saudara anaknya om Yogih. Jadi kita masih bisa nyambung kalo ngobrol bahasa bayi.


